//
you're reading...
Kuliah

Hubungan antara Etika dengan Ilmu

Hubungan antara Etika dengan Ilmu

Pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif, maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan nafsu manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi pendukung yang baik bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikat moral, tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.

Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar, dan salah. Yang paling menonjol adalah tentang baik dan teori tentang kewajiban. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral (Herman Soewardi 1999). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan yang pelaksananya tidak ditunjuk. pelaksananya menjadi jelas ketika sang subyek menghadapi opsi baik atau buruk, yang baik itulah materi kewajiban pelaksana dalam situasi ini.

Hubungan antara estetika dengan ilmu

Menurut A.G. Baumgarten, estetika adalah ilmu tenteng pengetahuan yang dihasilkan oleh indeera manusia, atau secara sederhana dapat disebut sebagai pengetahuan inderawi. Perenungan estetika memiliki perbedaan dengan perenungan logika. Perenungan estetika bertujuan untuk mencapai keindahan, sedangkan perenungan logika bertujuan mencari kebenaran (Earle,1992).

Estetika merupakan sesuatu untuk menilai terhadap hasil ilmu, apakah itu indah atau tidak. Misalnya dalam hal bermusik, orang yang suka musik dangdut akan merasa bosan apabila mendengarkan musik jazz. Begitu pula sebaliknya, orang yang suka musik jazz, akan menganggap musik dangdut membosankan. Etika bersiafat sujektivitas, akan tetapi bias berubah menjadi objektivitas apabila diberikan ketentuan-ketentuan untuk menilai hasil ilmu tersebut.

Rujukan:

Soewardi, Herman, 1999, “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi, Bakti Mandiri, Bandung.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

Categories

Blog Stats

  • 108,613 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: